Seni bukanlah hal sesuatu yang diharamkan dalam
Islam. Karena dengan seni, kehidupan manusia akan lebih indah dan nyaman untuk
dinikmati. kata “Budaya” berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Buddayah bentuk
jamak dari kata budhi yang berarti perilaku, budi atau akal. Maka, kata
kebudayaan dapat diartikan sebagai bentuk yang berkaitan dengan budi pekerti
dari hasil pemikiran. Kesenian termasuk dalam unsur kebudayaan. Kesenian adalah
salah satu media yang paling mudah diterima dalam penyebaran agama Islam. Salah
satu buktinya adalah menyebarnya agama Islam dengan menggunakan wayang kulit
dan gamelan oleh Sunan Kalijaga.
Sedangkan yang dimaksud dengan tradisi adalah
adat istiadat yang biasa dilakukan namun didalamnya mengandung ajaran-ajaran
Islam. Makna dari seni budaya lokal yang bernafaskan Islam adalah segala macam
bentuk kesenian yang berasal dan berkembang dalam masyarakat Indonesia serta
telah mendapat pengaruh dari agama Islam.
Islam adalah agama yang mencintai kesenian.
Karena Islam bukanlah agama yang hanya mengatur hubungan antara manusia dengan
manusia, manusia dengan makhluk lain dan manusia dengan Allah Swt. Jika
hubungan tersebut terjalin secara luas dan lengkap (komprehensif) serta sehat,
maka seluruh aspek kehidupan umat Islam akan teratur dan Islami. Sebagaimana
seni adalah perpaduan antara berbagai jenis suara, olah tubuh ataupun hal
lainnya. Seni budaya dan tradisi lokal yang bernafaskan Islam sangat banyak dan
memiliki manfaat terhadap penyebaran agama Islam. Untuk itulah kita sebagai
generasi Islam, harus mampu mengapresiasikan diri terhadap permasalahan
tersebut.
Bentuk dari apresiasi terhadap seni budaya dan
tradisi tersebut adalah dengan merawat, melestarikan, mengembangkan, simpati
dan menghargai secara tulus atas hasil karya para pendahulu. Saat ini, ada
sebagian kelompok umat Islam yang mengharamkan dan yang membolehkan seni budaya
dan tradisi yang ada. Mereka mengharamkan karena pada zaman Rasulullah Saw.
tidak pernah diajarkan seni dan tradisi tersebut. Yang membolehkan dengan dasar
bahwa semua tersebut adalah sebagai sarana dakwah penyebaran agama Islam,
sebagai generasi Islam, kamu harus mampu mensikapi secara bijaksana dan penuh
toleransi. Para ulama dan wali pada zaman dahulu bukanlah manusia yang bodoh
dan tidak tahu hukum agama Islam/ Syariat Islam. Para ulama dan wali itu adalah
orang-orang yang cerdas lahir batin dan mampu menerjemahkan pesan Islam ke
dalam seni budaya dan tradisi yang ada pada masyarakat Indonesia. Sehingga
dengan mudah praktek keagamaan umat Islam dapat dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari masyarakat Indonesia. Untuk itulah perlu adanya pemahaman secara
bersama, bahwa seni budaya dan tradisi tidak harus diharamkan secara total
karena memang mengandung nilai-nilai keislaman.
Di bawah ini adalah beberapa contoh budaya lokal
dan budaya yang bernuansa Islami:
1. Wayang
Kata “wayang” menurut bahasa berarti ”ayang-ayang”
atau bayangan. Karena yang terlihat adalah bayangannya dalam kelir (tabir kain
putih sebagai gelanggang permainan wayang). Bisa juga diberi penjelasan wayang
adalah pertunjukkan yang disajikan dalam berbagai bentuk, terutama yang
mengandung unsur pelajaran (wejangan). Pertunjukan ini diiringi dengan teratur
oleh seperangkat gamelan.
Wayang pada mulanya dibuat dari kulit kerbau, hal
ini dimulai pada zaman Raden Fatah. Dahulunya lukisan seperti bentuk manusia.
Karena bentuk wayang berkaitan dengan syariat agama Islam, maka para wali
mengubah bentuknya. Dari yang semula lukisan wajahnya menghadap lurus kemudian
agak dimiringkan. Pada tahun 1443 Saka, bersamaan dengan berdirinya kerajaan
Islam Demak, maka wujud wayang geber diganti menjadi wayang kulit secara
terperinci satu persatu tokoh-tokohnya. Sumber cerita dalam mementaskan wayang
diilhami dari Kitab Ramayana dan Mahabarata. Tentunya, para Wali mengubahnya
menjadi cerita-cerita keislaman, sehingga tidak ada unsur kemusyrikan di
dalamnya. Salah satu lakon yang terkenal dalam pewayangan ini adalah
Jimad/Jamus Kalimasada yang dalam Islam diterjemahkan menjadi Jimad Kalimat
Syahadat. Dan, masih banyak lagi istilahistilah Islam yang dipadukan dengan
istilah dalam pewayangan.
b. Hadrah dan salawat
kepada Nabi Muhammad Saw.
Hadrah adalah salah satu jenis alat musik yang
bernafaskan Islam. Seni suara yang diiringi dengan rebana (perkusi dari kulit
hewan) sebagai alat musiknya, sedangkan lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu
yang bernuansakan Islam, yaitu tentang pujian kepada Allah Swt. dan sanjungan
kepada Nabi Muhammad Saw. Dalam menyelenggarakan pesta musik yang diiringi
rebana ini juga menampilkan lagu cinta, nasihat dan sejarah-sejarah kenabian.
Sampai sekarang kesenian hadrah masih eksis berkembang di masyarakat. Pada
zaman sekarang, kesenian hadrah biasanya hadir ketika acara pernikahan,
akikahan atau sunatan. Bahkan kesenian hadrah ini dijadikan lomba antar pondok
pesantren atau antar madrasah.
c. Qasidah
Qasidah artinya suatu jenis seni suara yang
menampilkan nasihat-nasihat keislaman. Dalam lagu dan syairnya banyak
mengandung dakwah Islamiyah yang berupa nasihat-nasihat, shalawat kepada Nabi
dan do’a-do’a. Biasanya qasidah diiringi dengan musik rebana. Kejadian pertama
kali menggunakan musik rebana adalah ketika Rasulullah saw disambut dengan
meriah di Madinah.
d. Tari Zapin
Tari Zapin adalah sebuah tarian yang mengiringi
musik qasidah dan gambus. Tari Zapin diperagakan dengan gerak tubuh yang indah
dan lincah. Musik yang mengiringinya berirama padang pasir atau daerah Timur
Tengah. Tari Zapin biasa dipentaskan pada upacara atau perayaan tertentu
misalnya: khitanan, pernikahan dan peringatan hari besar Islam lainnya.
e. Mauludan
Setiap bulan Rabi’ul Awal tahun Hijriyah,
sebagian besar umat Islam Indonesia menyelenggarakan acara mauludun (pembacaan
sejarah Nabi). Maksud dari acara tersebut adalah untuk mengenang hari kelahiran
Rasulullah saw. Dalam acara tersebut diadakan pembacaan sejarah hidup Nabi
Muhammad Saw, ada beberapa kitab/ naskah mauludan (Maulid), diantaranya yang
paling terkenal adalah kitab maulid “Al-Barzanji” atau “Simtud Durar”. Puncak
acara mauludan biasanya terjadi pada tanggal 12 Rabiul Awal, di mana tanggal tersebut
Rasulullah saw dilahirkan. Di Aceh tradisi Mauludun adalah sebagai pengganti
upeti atau pajak bagi kerajaan Turki, karena dahulu Kerajaan Aceh memiliki
hubungan diplomasi yang baik dengan Turki. Intinya, Maulidan ini adalah
merayakan hari ulang tahun atau hari kelahiran Nabi Muhammad Saw.
Upacara
Tingkeban adalah upacara yang diselenggarakan pada saat seorang ibu mengandung 7
bulan. Hal itu dilaksanakan agar bayi yang di dalam kandungan dan ibu yang
melahirkan akan selamat. Tingkeban berasal dari kata tingkeb artinya tutup, maksudnya si ibu yang sedang
mengandung tujuh bulan tidak boleh bercampur dengan suaminya sampai empat puluh
hari sesudah persalinan, dan jangan bekerja terlalu berat karena bayi yang
dikandung sudah besar, hal ini untuk menghindari dari sesuatu yang tidak
diinginkan.
Upacara ini
biasanya diadakan pengajian, dengan membaca ayat-ayat Al-Quran surat Yusuf,
surat Lukman, dan surat Maryam. Di samping itu dipersiapkan pula peralatan
untuk upacara memandikan ibu hamil, dan yang utama adalah Rujak Kanistren
(rujak buah) yang terdiri dari 7 macam buahbuahan. Ibu yang sedang hamil tadi
dimandikan oleh 7 orang keluarga dekat yang dipimpin seorang Paraji (seorang
ahli medis tradisional yang menangani proses melahirkan) secara bergantian
dengan menggunakan 7 lembar kain batik yang dipakai bergantian setiap guyuran
dan dimandikan dengan air kembang 7 rupa. Pada guyuran ketujuh dimasukan belut
sampai mengena pada perut si ibu hamil, hal ini dimaksudkan agar bayi yang akan
dilahirkan dapat berjalan lancar (licin seperti belut). Bersamaan dengan
jatuhnya belut, kelapa gading yang telah digambari tokoh wayang oleh suaminya
dibelah dengan golok.
Hal ini dimaksudkan
agar bayi yang dikandung dan orang tuanya dapat berbuat baik lahir dan batin,
seperti keadaan kelapa gading warnanya elok, bila dibelah airnya bersih dan
manis. Itulah perumpamaan yang diharapkan bagi bayi yang dikandung supaya
mendapatkan keselamatan dunia-akhirat. Sesudah selesai dimandikan biasanya ibu
hamil didandani dibawa menuju ke tempat rujak kanistren tadi yang sudah
dipersiapkan. Kemudian sang ibu menjual rujak itu kepada anak-anak dan para
tamu yang hadir dalam upacara itu, dan mereka membelinya dengan menggunakan
talawengkar, yaitu genteng yang sudah dibentuk bundar seperti koin.
Sementara si
ibu hamil menjual rujak, suaminya membuang sisa peralatan mandi seperti air
sisa dalam jajambaran, belut, bunga, dsb. Semuanya itu harus dibuang di jalan
simpang empat atau simpang tiga. Setelah rujak kanistren habis terjual
selesailah serangkaian upacara adat tingkeban.
2. Upacara Reuneuh Mundingeun
Upacara
Reuneuh Mundingeun dilaksanakan apabila perempuan yang mengandung lebih dari sembilan bulan, bahkan ada yang sampai 12
bulan tetapi belum melahirkan juga, perempuan yang hamil itu disebut Reuneuh
Mundingeun, seperti munding atau kerbau yang bunting.
Upacara ini
diselenggarakan agar perempuan yang hamil tua itu segera melahirkan jangan
seperti kerbau, dan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Pada
pelaksanaannya leher perempuan itu dikalungi kolotok dan dituntun oleh Indung
Beurang (tenaga tradisional dalam bidang perawatan ibu dan anak) sambil membaca
doa dibawa ke kandang kerbau. Kalau tidak ada kandang kerbau, cukup dengan
mengelilingi rumah sebanyak tujuh kali. Perempuan yang hamil itu harus berbuat
seperti kerbau dan menirukan bunyi kerbau sambil dituntun dan diiringkan oleh
anak-anak yang memegang cambuk. Setelah mengelilingi kandang kerbau atau rumah,
kemudian oleh indung beurang dimandikan dan disuruh masuk ke dalam rumah.
Di kota
pelaksanaan upacara ini sudah jarang dilaksanakan.
3. Upacara Memelihara Tembuni
Tembuni/placenta
dipandang sebagai saudara bayi karena itu tidak boleh dibuang sembarangan,
tetapi harus diadakan upacara waktu menguburnya atau menghanyutkannya ke
sungai.
Bersamaan
dengan bayi dilahirkan, tembuni (placenta) yang keluar biasanya dirawat
dibersihkan dan dimasukan ke dalam pendil dicampuri bumbu-bumbu garam, asam dan
gula merah lalu ditutup memakai kain putih yang telah diberi udara melalui
bambu kecil (elekan). Pendil diemban dengan kain panjang dan dipayungi,
biasanya oleh seorang Paraji untuk dikuburkan di halaman rumah atau dekat
rumah. Ada juga yang dihanyutkan ke sungai secara adat. Upacara penguburan
tembuni disertai pembacaan doa selamat dan menyampaikan hadiah atau tawasulan
kepada Syaikh Abdulkadir Jaelani dan ahli kubur. Di dekat kuburan tembuni itu
dinyalakan cempor/pelita sampai tali pusat bayi lepas dari perutnya. Upacara
pemeliharaan tembuni dimaksudkan agar bayi itu selamat dan kelak menjadi orang
yang berbahagia.
4. Upacara Gusaran
Gusaran adalah
meratakan gigi anak perempuan dengan alat khusus. Maksud upacara Gusaran ialah
agar gigi anak perempuan itu rata dan terutama agar nampak bertambah cantik. Upacara Gusaran
dilaksanakan apabila anak perempuan sudah berusia tujuh tahun. Jalannya upacara, anak
perempuan setelah didandani duduk di antara para undangan, selanjutnya
membacakan doa dan solawat kepada Nabi Muhammad Saw. Kemudian Indung beurang
melaksanakan gusaran terhadap anak perempuan itu, setelah selesai lalu dibawa
ke tangga rumah untuk disawer (dinasihati melalui syair lagu). Selesai disawer,
kemudian dilanjutkan dengan makan-makan. Biasanya dalam upacara Gusaran juga
dilaksanakan tindikan, yaitu melubangi daun telinga untuk memasang
anting-anting, agar kelihatannya lebih cantik lagi.
5. Upacara Sepitan/Sunatan.
Upacara
sunatan/khitanan dilakukan dengan maksud agar alat vitalnya bersih dari najis. . Anak yang telah menjalani
upacara sunatan dianggap telah melaksanakan salah satu syarat utama sebagai
umat Islam. Upacara Sepitan anak perempuan diselenggarakan pada waktu anak itu
masih kecil atau masih bayi, supaya tidak malu.
Upacara
sunatan diselenggarakan biasanya jika anak laki-laki menginjak usia 6 tahun.
Dalam upacara sunatan selain Paraji sunat, juga diundang para tetangga, handai
tolan dan kerabat. Pada pelaksanaannya pagi-pagi sekali anak yang akan disunat
dimandikan atau direndam di kolam sampai menggigil (kini hal semacam itu jarang
dilakukan lagi berhubung teknologi kesehatan sudah berkembang), kemudian
dipangku dibawa ke halaman rumah untuk disunat oleh Paraji sunat (bengkong),
banyak orang yang menyaksikan di antaranya ada yang memegang ayam jantan untuk
disembelih, ada yang memegang petasan dan macam-macam tetabuhan sambil
menyanyikan marhaba.
Bersamaan
dengan anak itu disunati, ayam jantan disembelih sebagai bela, petasan disulut,
dan tetabuhan dibunyikan. Kemudian anak yang telah disunat dibawa ke dalam
rumah untuk diobati oleh Paraji sunat. Tidak lama setelah itu para undangan pun
berdatangan, baik yang dekat maupun yang jauh. Mereka memberikan uang/nyecep
kepada anak yang disunat itu agar bergembira dan dapat melupakan rasa sakitnya.
Pada acara ini ada pula yang menyelenggarakan hiburan seperti wayang golek,
sisingaan atau aneka tarian.
6. Cucurak
Biasanya,
masyarakat Sunda rutin melakukan kegiatan makan bersama dan saling bertukar
makanan atau yang sering disebut dengan Cucurak. Cucurak berasal dari kata curak-curak
yang diartikan dengan kesenangan atau suka-suka. Sebenarnya cucurak tidak
selalu dilakukan saat menjelang Ramadhan, cucurak juga bisa dilakukan ketika
kita mendapatkan berkah seperti lulus sekolah, naik pangkat, dll. Namun dalam
adat Sunda, cucurak lebih sering dilakukan untuk menyambut datangnya Ramadhan.
Acara cucurak
biasanya dilakukan oleh kaum ibu yang memasak makanan yang berbeda-beda. Setelah
itu, makanan dikumpulkan di masjid terdekat untuk dibagikan dan dimakan
bersamasama. Tetapi, cucurak tidak selalu dilakukan dengan cara seperti itu.
Orang-orang yang makan bersama dengan niat menyambut datangnya bulan Ramadhan
juga sudah dapat dikatakan sebagai cucurak. Niat menyambut Ramadhan juga harus
selalu diingat dalam cucurak, sebab jika hal itu dilupakan, biasanya kita akan
makan sebanyak-banyaknya dan lupa dengan niat kita. Cucurak dilakukan untuk
menjalin silaturrahmi dan saling memaafkan antar masyarakat.
Selain itu,
cucurak juga merupakan bentuk rasa syukur terhadap rejeki yang telah diberikan
Tuhan kepada kita. Sebagai tradisi unik dari Sunda, jangan sampai kegiatan
cucurak seperti ini hilang atau dilupakan, karena ini merupakan salah satu cara
untuk menjaga kerukunan antar masyarakat. Bangga dan lestarikanlah
tradisi-tradisi daerah yang telah lama dijaga oleh nenek moyang kita, agar
Indonesia menjadi negara yang bukan hanya kaya dengan sumber daya alamnya,
tetapi juga kaya akan tradisi-tradisinya.
Sumber :
Buku SKI Pengangan Siswa Kelas IX Sejarah Kebudayaan Islam/Kementerian Agama,Jakarta: Kementerian Agama 2015.
Keberhasilan
syiar agama di suatu daerah, tidak hanya ditentukan oleh kualitas ajaran agama
itu sendiri, tetapi yang lebih penting, bagaimana ajaran itu disampaikan kepada
calon pemeluknya. Di Indonesia, syiar agama termasuk proses yang unik, menarik
sekaligus cukup dinamis. Meski sudah berlangsung berabad-abad lamanya seperti
yang dilakukan oleh Walisongo di pulau Jawa. Walisongo masuk ke Jawa melalui
akulturasi budaya Jawa dengan Islam yang menghasilkan budaya Jawa bernuansa
Islami.
Di Jawa,
Setiap ada musibah atau sesuatu yang menyenangkan seperti perkawinan, sakit,
panen padi, menanam padi selalu mengadakan upacara selamatan. Selamatan
dilakukan sebagai rasa syukur, dengan permohonan agar selalu mendapatkan
keselamatan. Sebelum Islam masuk ke Jawa pelaksanaan selamatan biasanya dimulai
dengan bacaan mantramantra, namun setelah Islam masuk ke Jawa, selamatan
dikemas Islami, seperti dengan tahlilan, pengajian. Tradisi Jawa bernuansa
Islam yang masih terpelihara hingga saat ini, di antaranya seperti:
1.
Tahlilan
Tahlilan
adalah upacara kenduri atau selamatan untuk berdoa kepada Allah dengan membaca
surat Yasin dan beberapa surat dan ayat pilihan lainnya, diikuti
kalimat-kalimat tahlil (laa ilaaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan tasbih
(subhanallah). Biasanya diselenggarakan sebagai ucapan syukur kepada Allah Swt.
(tasyakuran) dan mendoakan seseorang yang telah meninggal dunia pada hari ke 3,
7, 40, 100, 1.000 dan khaul (tahunan).
Tradisi ini
berasal dari kebiasaan orang-orang Hindu dan Buddha yaitu kenduri, selamatan,
dan sesaji. Dalam agama Islam tradisi ini tidak dapat dibenarkan karena mengandung
kemusyrikan. Dalam tahlilan sesaji digantikan dengan berkat atau nasi dan
lauk-pauk yang dibawa pulang oleh peserta. Ulama yang mengubah tradisi ini adalah
Sunan Kalijaga dengan maksud agar orang yang baru masuk Islam tidak terkejut
karena harus meninggalkan tradisi mereka, sehingga mereka kembali ke agamanya
semula.
2. Sekaten
Sekaten adalah
upacara untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw di lingkungan Keraton
Yogyakarta atau Maulud. Selain untuk Maulud sekaten diselenggarakan pula pada
bulan Besar (Dzulhijjah). Pada perayaan ini gamelan Sekaten diarak dari keraton
ke halaman masjid Agung Yogya dan dibunyikan siang-malam sejak seminggu sebelum
12 Rabiul Awal. Tradisi ini dipelopori oleh Sunan Bonang. Syair lagu berisi
pesan tauhid dan setiap bait lagu diselingi pengucapan dua kalimat syahadat
atau syahadatain, kemudian menjadi sekaten.
Sekaten adalah
tradisi membunyikan musik gamelan milik keraton. Pertama kali terjadi di pulau
Jawa. Tradisi ini sebagai sarana penyebaran agama Islam yang pada dilakukan
oleh Sunan Bonang. Dahulu setiap kali Sunan Bonang membunyikan gamelan
diselingi dengan lagu-lagu yang berisi tentang agama Islam serta setiap
pergantian pukulan gamelan diselingi dengan membaca syahadatain, yang pada
akhirnya tradisi ini disebut dengan sekaten. Maksud dari sekaten adalah syahadatain.
Sekaten juga
biasanya bersamaan dengan acara grebek maulud. Puncak dari acara sekaten adalah
keluarnya sepasang Gunungan dari Masjid Agung setelah didoakan oleh ulama-ulama
keraton. Banyak orang yang percaya, siapapun yang mendapatkan makanan baik
sedikit ataupun banyak dari Gunungan itu akan mendapatkan keberkahan dalam
kehidupannya. Beberapa hari menjelang dibukanya sekaten diselenggarakan pesta
rakyat.
Penjelasan tentang Sekaten
Prosesi Sekaten
3.
Gerebeg Maulud
Acara ini
merupakan puncak peringatan Maulud. Pada malam tanggal 11 Rabiul Awal ini Sri
Sultan beserta pembesar kraton Yogyakarta hadir di masjid Agung. Dilanjutkan
pembacaan pembacaan riwayat Nabi dan ceramah agama.
4. Takbiran
Takbiran
dilakukan pada malam 1 Syawal (Idul Fitri) dengan mengucapkan takbir
bersama-sama di masjid/mushalla ataupun berkeliling kampung (takbir keliling).
5. Penanggalan Hijriyah
Masuknya agama
Islam ke Indonesia, secara tidak langsung membawa pengaruh pada sistem
penanggalan. Agama Islam menggunakan perputaran bulan, sedangkan kalender
sebelumnya menggunakan perputaran matahari.
Perpaduan antara penanggalan Islam dengan penanggalan Nama bulan dalam Islam
Nama bulan dalam Jawa: 1) Muharram Sura/Suro
2) Safar Sapar/Sopar 3) Rabiul awal Mulud 4) Rabiul akhir Ba’da Mulud 5)
Jumadil awal Jumadil Awal 6) Jumadil akhir Jumadil Akhir 7) Rajab Rajab 8)
Sya’ban Ruwah 9) Ramadhan Pasa 10) Syawal Syawal 11) Zulqaidah Kapit 12)
Zulhijjah Besar.
6.
Grebek
Grebeg adalah sebuah tradisi Jawa
untuk mengiringi para raja atau pembesar kerajaan. Grebek pertama kali
diselenggarakan oleh keraton Yogyakarta oleh Sultan Hamengkubuwana ke-1. Grebek
dilaksanakan saat Sultan memiliki hajat dalem berupa menikahkan putra
mahkotanya. Grebek di Yogyakarta diselenggarakan 3 tahun sekali yaitu:
1.pertama grebek pasa, syawal
diadakan setiap tanggal 1 Syawal bertujuan untuk menghormati Bulan Ramadhan dan
Lailatul Qadr.
2.Kedua,
grebek besar, diadakan setiap tanggal 10 dzulhijjah
untuk merayakan hari raya kurban dan
3.ketiga grebek maulud setiap
tanggal 12 Rabiul awal untuk memperingati hari Maulid Nabi Muhammad Saw. Selain
kota Yogyakarta yang menyelenggarakan pesta grebek adalah kota Solo, Cirebon,
dan Demak.
7.
Selikuran
Maksudnya
adalah tradisi yang diselenggarakan setiap malam tanggal 21 Ramadhan. Tradisi tersebut masih berjalan
dengan baik di Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Selikuran berasal dari kata
selikur atau dua puluh satu. Perayaan tersebut dalam rangka menyambut datangnya
malam lailatul qadar, yang menurut ajaran Islam lailatulqadar hadir pada 1/3
terakhir bulan ramadhan.
8.
Megengan atau Dandangan
Upacara untuk
menyambut datangnya bulan Ramadhan. Kegiatan utamanya adalah menabuh bedug yang
ada di masjid sebagai tanda bahwa besok hari sudah memasuki bulan Ramadhan dan
semua wajib melaksanakan puasa. Upacara tersebut masih terpelihara di daerah Kudus
dan Semarang.
9.
Suranan
Suranan dalam
penanggalan Islam adalam bulan Muharam. Pada bulan tersebut masyarakat
berziarah ke makam para Wali. Selain itu mereka membagikan makanan khas berupa
bubur sura yang melambangkan tanda syukur kepada Allah Swt.
10. Nyadran
Istilah
nyadran berasal dari kata sadran dalam bahasa Jawa yang artinya ziarah atau
nyekar (bahasa Jawa), dalam bahasa Kawi dari kata sraddha yang artinya upacara
peringatan hari kematian seseorang. Nyadran adalah tradisi Jawa yang bertujuan
untuk menghormati orang tua atau leluhur mereka, dengan melakukan ziarah kubur
dan mendoakan arwah mereka.
Di daerah lain nyadran diartikan
sebagai bersih makam para leluhur dan sedulur (saudara), kemudian bersih desa
yang dilakukan dari pagi sampai menjelang dzuhur.
11.
Lebaran ketupat
Lebaran
ketupat disebut juga dengan Bakda Kupat dilaksanakan seminggu setelah
pelaksanaan hari raya Idul Fitri. Ketupat adalah jenis makanan yang dibuat dari
beras dengan janur (daun kelapa yang masih muda) dan dibentuk seperti belah
ketupat.
Video Latihan Soal
Sumber : Buku SKI Siswa. Cet.ke-1
Pen. Kemenag Th. 2015)